Poin penting
- 1.Anak belajar paling banyak lewat bermain bebas, bukan lewat mainan yang dipakai sesuai petunjuk.
- 2.WHO (2019) menegaskan anak perlu lebih banyak bergerak dan bermain, serta lebih sedikit duduk diam.
- 3.Sendok kayu, mangkuk plastik, kardus bekas, dan tutup botol bisa menjadi bahan stimulasi dari rumah.
- 4.Yang paling dibutuhkan anak adalah waktu bermain bersamamu dan bahan yang boleh diberantakkan.
Mainan mahal yang kalah pamor dari tutup botol
Moms, aku pernah ada di fase membeli mainan edukatif satu per satu. Alat peraga warna-warni masuk keranjang belanja dengan harapan anakku akan betah memainkannya. Setiap ada yang baru, aku merasa sudah menyiapkan sesuatu yang baik untuk perkembangannya.
Kenyataannya berbeda dari bayanganku. Benda yang paling lama ia pegang justru tutup botol dan kardus bekas. Mainan mahal itu jadi lebih jarang disentuh, dan dari situ aku mulai penasaran mencari tahu sebabnya.
Bermain bebas dan pesan WHO soal bergerak
Dari yang aku pelajari, anak paling banyak belajar lewat bermain bebas. Cara ini berbeda dengan mainan yang harus dipakai sesuai petunjuk. Penjelasan ini merujuk pada WHO, jadi bukan sekadar perasaanku saja.
WHO pada 2019 menegaskan bahwa anak perlu lebih banyak bergerak dan bermain, serta lebih sedikit duduk diam. Artinya, ruang untuk bereksplorasi itu penting bagi mereka. Kalau anakmu sedang diam, yang dianjurkan malah mengajaknya membaca atau bercerita.
Dipegang, diputar, dijatuhkan: cara anak memahami sebab akibat
Lalu kenapa benda sederhana terasa lebih menarik? Jawabannya, anak bebas menjelajahinya sesuka hati. Ia bisa memegang, memutar, memindahkan, dan menjatuhkannya berkali-kali. Lewat gerakan itulah ia mengenal sebab dan akibat.
Ada satu fakta yang membuatku makin yakin. Menurut Harvard Center on the Developing Child, otak anak usia dini bisa membentuk lebih dari 1 juta koneksi saraf per detik. Pengalaman bermain disebut ikut menguatkan koneksi tersebut, jadi kegiatan yang tampak iseng itu ternyata bermakna besar.
Tiga bahan dari rumah yang aku pakai
Kamu tidak perlu belanja banyak untuk memulai. Aku memakai bahan yang sudah ada di rumah, dan hasilnya cukup membuat anakku sibuk.
Sendok kayu dan mangkuk plastik aku pakai untuk melatih pegangan. Kardus bekas aku ubah menjadi terowongan sekaligus kotak masuk-keluaran. Tutup botol berbagai ukuran menjadi bahan latihan untuk jari-jarinya.
Semua bahan itu mudah dicari. Dengan begitu aku bisa fokus menemaninya bermain, bukan memikirkan mainan berikutnya yang harus dibeli.
Kenapa mainan mahal sering bekerja setengah jalan
Dari pengamatanku, mainan mahal biasanya hanya bekerja setengah jalan. Anak cuma mengikuti cara main yang sudah ditentukan sejak awal. Perannya jadi lebih mirip pengikut aturan daripada penjelajah.
Benda sederhana tidak membawa aturan apa pun. Karena itu anak harus berpikir sendiri untuk menemukan cara memakainya. Proses menemukan itulah yang membuatnya bertahan lebih lama.
Yang sebenarnya dibutuhkan anakmu setiap bulan
Moms, kamu tidak harus membeli mainan baru tiap bulan. Yang anakmu butuhkan adalah waktu bermain bersamamu, plus bahan yang boleh ia berantakkan sesukanya. Kalau dua hal itu sudah ada, kamu sudah memberi bagian yang paling penting.
Tulisan ini bersifat edukasi dari pengalamanku dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau kamu punya kekhawatiran soal tumbuh kembang anak, konsultasikan langsung dengan dokter.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah aku harus berhenti membeli mainan edukatif?
Menurut ceritaku, kamu tidak perlu membeli mainan baru tiap bulan. Yang anakmu butuhkan adalah waktu bermain bersamamu dan bahan yang boleh ia berantakkan sesukanya.
Bahan apa dari rumah yang bisa dipakai untuk bermain?
Aku memakai sendok kayu dan mangkuk plastik, kardus bekas, serta tutup botol berbagai ukuran. Fungsinya untuk melatih pegangan, menjadi terowongan atau kotak masuk-keluaran, dan melatih jari.
Apa yang sebaiknya dilakukan kalau anak sedang diam?
WHO menegaskan anak perlu lebih banyak bergerak dan bermain, serta lebih sedikit duduk diam. Kalau anak sedang diam, yang dianjurkan justru mengajaknya membaca atau bercerita.
Sumber
- •WHO, 2019
- •Harvard, Center on the Developing Child
Versi asli tulisan ini ada di Threads
Penasaran dengan cerita lengkap soal tutup botol yang mengalahkan mainan mahal ini?
Cek utas aslinya di ThreadsDi Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.
Panduan terkait
Tabel milestone bicara bayi per usia (6-24 bulan, acuan CDC)Kalau mau lebih lengkap
Panduan Tumbuh Kembang 0-24 Bulan
Memahami milestone, variasi perkembangan, dan red flags
Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.