Poin penting
- 1.Bahasa reseptif (memahami) dan bahasa ekspresif (berbicara) adalah dua kemampuan berbeda, dan reseptif selalu datang lebih dulu.
- 2.Milestone CDC dipakai sebagai patokan kapan bertanya ke tenaga kesehatan, bukan sebagai alat diagnosis.
- 3.Menyebut nama benda, memberi jeda, dan mengulang kata secara konsisten membantu melatih bahasa reseptif.
- 4.Terlalu banyak instruksi dan tes dari orang dewasa justru bisa membuat anak diam.
Saat anak menoleh dipanggil, tapi belum ada kata yang keluar
Dulu aku sering cemas sendiri soal bicara anakku. Setiap kali aku memanggil namanya, dia menoleh dan jelas tahu bahwa itu panggilan untuknya. Tapi mulutnya belum mengucapkan kata apa pun, dan di situlah aku mulai bertanya-tanya dalam hati.
Pikiranku langsung ke mana-mana, Moms. Kalau dia paham, kenapa belum ada kata yang keluar? Ternyata kekhawatiranku muncul karena aku mencampuradukkan dua hal yang sebenarnya berbeda.
Memahami dan berbicara adalah dua kemampuan yang terpisah. Begitu aku bisa membedakannya, cara pandangku terhadap anak ikut berubah. Aku jadi lebih tenang melihat prosesnya berjalan.
Bahasa reseptif datang lebih dulu, ekspresif menyusul
Ada dua jenis bahasa yang perlu Moms kenali. Bahasa reseptif adalah kemampuan memahami apa yang didengar. Bahasa ekspresif adalah kemampuan mengungkapkan sesuatu lewat ucapan.
Urutannya selalu sama, yaitu reseptif muncul lebih dulu. Karena itu, anak yang belum berbicara belum tentu tidak mengerti apa-apa. Pemahamannya bisa jauh lebih banyak daripada kata yang keluar dari mulutnya.
Jadi kalau si kecil menoleh atau merespons saat diajak bicara, itu pertanda pemahamannya sedang tumbuh. Kemampuan bicaranya tinggal menyusul di belakang.
Memakai milestone CDC, bukan ukuran anak tetangga
Sekarang aku tidak lagi memakai anak tetangga sebagai patokan. Aku berpegang pada milestone dari CDC yang tahapannya lebih jelas.
Pada usia 9 bulan, anak mengoceh dengan suara yang berulang. Di usia 12 bulan, ia melambaikan tangan dan menunjuk. Lalu pada usia 18 bulan ia sudah bisa mengucapkan beberapa kata, dan di usia 24 bulan ia mulai menggabungkan dua kata.
Perlu diingat, milestone CDC ini bukan alat diagnosis. Fungsinya hanya sebagai pegangan supaya Moms tahu kapan sebaiknya bertanya ke tenaga kesehatan.
Tiga kebiasaan sederhana untuk melatih bahasa reseptif
Di rumah, ada tiga hal yang aku lakukan untuk melatih pemahaman bahasa anakku. Pertama, aku menyebutkan nama benda yang sedang dia lihat. Dengan begitu, kata yang kudengungkan langsung bertemu dengan bendanya.
Kedua, aku memberi jeda setelah berbicara. Jeda itu memberinya kesempatan untuk merespons, jadi aku tidak buru-buru mengisi kekosongan dengan kalimat berikutnya.
Ketiga, aku mengulang kata yang sama sesering mungkin dan menjaganya tetap konsisten. Kata yang sering terdengar akan makin dikenal oleh anak.
Terlalu banyak instruksi justru bisa membuat anak diam
Ini bagian yang paling mengejutkan buatku. Ternyata yang memperlambat bicara anak sering kali bukan stimulusnya yang kurang, melainkan instruksinya yang kebanyakan.
Orang dewasa yang terus-menerus menguji anaknya malah bisa membuat anak memilih diam. Hasilnya berlawanan dengan yang diharapkan, karena anak bukannya bicara.
Bahasa tumbuh dari rasa aman, bukan dari dikejar
Kalau anak Moms paham tapi belum bicara, itu bukan tanda gagal, baik untuk anak maupun untuk Moms. Teruslah mengajaknya bicara dan teruslah memberi jeda. Bahasa anak berkembang dari rasa aman, bukan dari dikejar-kejar.
Tulisan ini bersifat edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau Moms ragu dengan perkembangan bicara anak, bicarakan langsung dengan tenaga kesehatan.
Pertanyaan yang sering muncul
Anak sudah paham kalau dipanggil tapi belum ngomong, apakah itu masalah?
Belum tentu. Ada dua jenis bahasa, yaitu reseptif (memahami) dan ekspresif (berbicara), dan reseptif selalu datang lebih dulu. Anak bisa paham jauh lebih banyak daripada yang dia ucapkan.
Patokan apa yang bisa dipakai untuk melihat perkembangan bicara anak?
Aku memakai milestone CDC, yaitu mengoceh berulang di 9 bulan, melambaikan tangan dan menunjuk di 12 bulan, beberapa kata di 18 bulan, dan menggabungkan dua kata di 24 bulan. Milestone ini bukan alat diagnosis. Fungsinya sebagai patokan untuk tahu kapan sebaiknya bertanya ke tenaga kesehatan.
Bagaimana cara melatih anak supaya lebih paham bahasa?
Sebut nama benda yang sedang dia lihat, beri jeda setelah berbicara agar dia sempat merespons, dan ulang kata yang sama secara konsisten. Hindari terlalu banyak instruksi atau terus-menerus mengetes anak, karena itu bisa membuatnya diam.
Sumber
- •Milestone perkembangan CDC (disebut di utas asli)
Versi asli tulisan ini ada di Threads
Mau
Cek utas aslinya di ThreadsDi Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.
Panduan terkait
Tabel milestone bicara bayi per usia (6-24 bulan, acuan CDC)Kalau mau lebih lengkap
Panduan Tumbuh Kembang 0-24 Bulan
Memahami milestone, variasi perkembangan, dan red flags
Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.