Poin penting
- 1.WHO (2019): bayi di bawah 1 tahun dan anak usia 1 tahun tidak dianjurkan menonton, usia 2 tahun maksimal 1 jam per hari.
- 2.Isi tontonan dan ada tidaknya pendamping berpengaruh lebih besar daripada hitungan menit saja.
- 3.Pendampingan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan mendapat penjelasan dari orang tua.
- 4.Anak banyak meniru apa yang dilihat dari orang tuanya, jadi perubahan dimulai dari layar orang tua sendiri.
Selama ini aku salah fokus pada hitungan menit
Moms, dulu aku sibuk menghitung berapa menit anak berada di depan layar. Setelah kupikirkan lagi, ternyata ada dua hal yang pengaruhnya lebih besar. Yang pertama adalah isi tontonannya, yang kedua adalah ada atau tidaknya orang dewasa yang menemani.
Bukan berarti durasi tidak penting. Hanya saja, durasi baru separuh dari gambaran lengkapnya, dan separuh lainnya sering luput dari perhatian.
Karena itu, pertanyaan yang kuajukan ke diri sendiri sekarang sudah berubah. Aku tidak lagi bertanya sudah berapa menit, tetapi anakku sedang menonton apa dan siapa yang duduk di sebelahnya.
Patokan durasi WHO untuk bayi sampai usia 2 tahun
Soal durasi, WHO sudah memberi acuan yang jelas lewat rekomendasi tahun 2019. Untuk bayi di bawah 1 tahun, screen time tidak dianjurkan sama sekali. Anak usia 1 tahun pun belum dianjurkan untuk menonton.
Memasuki usia 2 tahun, batasnya adalah maksimal 1 jam per hari. Ketika anak sedang diam dan tenang, WHO menyarankan agar orang tua membacakan buku atau mengajaknya bercerita, bukan menyodorkan layar.
Tontonan sebentar pun bisa meninggalkan bekas
Menonton hanya sebentar belum tentu aman. Kalau isinya tidak sesuai dengan usia anak, efeknya tetap sampai kepadanya. Jadi memperpendek durasi saja tidak cukup untuk menjaga anak.
Aku pernah membaca pengalaman seorang ibu. Anaknya mengucapkan hal tabu tentang adegan dewasa, padahal yang lebih lama menonton justru anak tetangga. Dari cerita itu aku belajar bahwa paparan bisa datang dari mana saja, tidak hanya dari layar di rumah sendiri.
Pendampingan lebih melindungi daripada larangan total
Kejutan buatku, yang melindungi anak ternyata bukan larangan total terhadap layar. Yang melindungi adalah pendampingan. Anak yang menonton bersama orang tuanya punya kesempatan untuk bertanya dan mendapat penjelasan.
Dengan duduk di sebelahnya, aku bisa menjawab pertanyaan anak saat itu juga. Penjelasan datang dari orang tuanya sendiri, bukan dari tontonan atau dari anak lain. Layar tetap ada, tetapi anak tidak menghadapinya sendirian.
Tiga kebiasaan yang kini aku jalankan di rumah
Pertama, aku menonton bersama anak dan tidak membiarkannya sendirian di depan layar. Kedua, aku memilih tontonan yang sesuai usianya, bukan sekadar yang tampak lucu. Ketiga, aku menyiapkan jawaban untuk berjaga-jaga kalau suatu saat ia melihat sesuatu yang belum pantas.
Ada satu hal lagi yang aku sadari. Anak lebih banyak meniru apa yang ia lihat dari orang tuanya daripada apa yang dilarang. Maka aku mulai dari layar yang kupegang sendiri.
Kalau kemarin anakmu menonton lebih lama dari rencana
Moms, kalau kemarin anakmu menonton lebih lama dari yang kamu inginkan, itu bukan tanda kamu gagal. Yang terpenting, kamu hadir saat ia menonton dan tahu apa yang ia lihat.
Tulisan ini adalah edukasi dan berbagi pengalaman pribadi, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau kamu punya kekhawatiran tentang perkembangan anakmu, bicarakan langsung dengan dokter.
Pertanyaan yang sering muncul
Bolehkah bayi di bawah 1 tahun menonton layar?
Menurut WHO (2019), screen time tidak dianjurkan untuk bayi di bawah 1 tahun. Saat bayi sedang diam, yang dianjurkan adalah membacakan buku atau mengajaknya bercerita.
Berapa lama anak usia 2 tahun boleh menonton?
Patokan WHO untuk usia 2 tahun adalah maksimal 1 jam per hari. Untuk anak usia 1 tahun, menonton belum dianjurkan.
Apakah layar harus dilarang total supaya anak aman?
Menurut pengalamanku, yang melindungi anak bukan larangan total, tetapi pendampingan. Anak yang menonton bersama orang tua bisa bertanya dan mendapat penjelasan, jadi aku memilih menonton bareng dan memilih tontonan sesuai usia.
Sumber
- •WHO, 2019 (rekomendasi screen time untuk anak)
Versi asli tulisan ini ada di Threads
Mau baca versi singkat dan lebih personal dari cerita ini? Kunjungi utas aslinya di Threads MomsyCorner
Cek utas aslinya di ThreadsDi Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.
Kalau mau lebih lengkap
AI Tanya Jawab MPASI (Sumber Kredibel)
Tanya jawab MPASI bersama Momsy-Ami
Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.