Lewati ke konten utama
MPASI

Jam Camilan Anak 6-24 Bulan agar Makan Utama Tetap Lancar

24 Oktober 20262 menit baca

Poin penting

  • 1.Bayi 6 sampai 24 bulan butuh tiga kali makan utama ditambah satu sampai dua kali selingan sehari.
  • 2.Yang membuat anak malas makan utama bukan camilannya, tetapi jam dan porsinya.
  • 3.Beri jeda sekitar 1,5 sampai 2 jam sebelum makan utama dan jaga porsi camilan tetap kecil.
  • 4.Saat anak susah makan, cek dulu urutan makan seharian sebelum curiga ada masalah pada anak.

Camilan itu penolong, bukan lawan makan utama

Moms, ada satu informasi yang bikin aku lega: bayi usia 6 sampai 24 bulan ternyata butuh tiga kali makan utama, ditambah satu sampai dua kali selingan dalam sehari. Jadi selingan memang punya tempat sendiri di jadwal harian anak.

Aku punya anak yang susah makan, jadi kabar ini terasa menenangkan. Selama ini aku salah paham soal peran camilan.

Angka dari rilis CDC yang mengubah cara pandangku

Aku baru tahu dari rilis CDC bahwa pola makan anak 6 sampai 24 bulan tidak berhenti di tiga kali makan besar. Di sela-selanya ada dua sampai tiga kali camilan.

Buat Moms yang anaknya sedang sulit makan, angka ini bisa jadi pegangan awal. Ia mengingatkan aku bahwa camilan memang bagian dari pola makan anak.

Yang perlu dicek: jam dan porsi camilan

Dulu aku mengira camilan membuat anak kenyang sehingga ia menolak makan utama. Ternyata penyebabnya bukan keberadaan camilan, melainkan waktu pemberian dan takarannya.

Selingan yang diberikan terlalu dekat dengan jam makan utama, atau jumlahnya terlalu banyak, itulah yang membuat meja makan utama jadi sepi.

Patokan Kemenkes untuk makan utama dan selingan

Kemenkes memberi patokan berdasarkan usia. Untuk usia 6 sampai 8 bulan, makan utama diberikan 2 sampai 3 kali sehari. Untuk usia 9 sampai 11 bulan dan 12 sampai 23 bulan, jumlahnya naik menjadi 3 sampai 4 kali makan utama.

Selingannya cukup 1 sampai 2 kali sehari. Waktu pemberiannya di antara dua makan utama.

Jeda 1,5 sampai 2 jam dan porsi kecil

Jarak antar waktu makan juga penting. Beri jeda sekitar satu setengah sampai dua jam sebelum makan utama berikutnya, supaya anak duduk di meja dalam keadaan lapar, bukan kenyang.

Porsi camilan sebaiknya kecil saja. Fungsinya menambal kebutuhan, bukan menggantikan makan utama.

Kalau anak tampak susah makan, aku sekarang mengecek dulu urutan makannya sepanjang hari. Aku tidak langsung curiga ada yang bermasalah pada anak, karena sering kali yang perlu diubah hanya jam selingannya.

Mulai dari satu langkah: rapikan jam selingan

Moms tidak harus menjalankan semuanya dengan sempurna hari ini. Mulai dari satu hal dulu, yaitu merapikan jam selingan. Dari situ suasana meja makan biasanya jadi jauh lebih tenang.

Tulisan ini edukasi yang aku rangkum dari pengalaman dan penjelasan umum, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau Moms khawatir dengan pola makan anak, konsultasikan langsung ke dokter.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah camilan membuat anak jadi susah makan?

Menurut yang aku pelajari, masalahnya bukan pada camilannya, tetapi pada jam dan porsinya. Camilan yang terlalu dekat dengan makan utama atau terlalu banyak bisa membuat anak tidak mau makan utama.

Berapa kali sehari anak 6 sampai 24 bulan perlu makan?

Intinya tiga kali makan utama ditambah satu sampai dua kali selingan. Patokan Kemenkes: usia 6 sampai 8 bulan makan utama 2 sampai 3 kali, sedangkan usia 9 sampai 23 bulan 3 sampai 4 kali. Selingan diberikan di antara makan utama.

Berapa jeda camilan dengan makan utama berikutnya?

Jedanya sekitar 1,5 sampai 2 jam. Dengan begitu anak datang ke meja dalam keadaan lapar, bukan kenyang. Porsi camilannya juga kecil saja.

Sumber

  • •CDC (rilis tentang pola makan dan camilan anak usia 6 sampai 24 bulan, sebagaimana disebut di utas)
  • •Kemenkes (patokan frekuensi makan utama dan selingan menurut usia, sebagaimana disebut di utas)

Versi asli tulisan ini ada di Threads

Mau versi singkat dan lebih santai?

Cek utas aslinya di Threads

Di Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.

Kalau mau lebih lengkap

Rangkuman Lengkap: Panduan Praktis MPASI

Panduan praktis, resep pangan lokal, mitos vs fakta, sampai tips GTM

Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.

Artikel lain di topik yang sama