Poin penting
- 1.MPASI di awal adalah masa kenalan dengan rasa, tekstur, dan cara makan, bukan pengganti ASI.
- 2.Patokan Kemenkes RI: ASI sekitar 70 persen di usia 6 sampai 8 bulan, 50 banding 50 di usia 9 sampai 11 bulan, lalu sekitar 30 persen di usia 12 sampai 23 bulan.
- 3.WHO menegaskan ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih, sambil MPASI dimulai di usia 6 bulan.
- 4.Jumlah suapan di awal MPASI bukan ukuran keberhasilan karena kebutuhan utama anak masih dari ASI.
Dugaanku soal mengurangi ASI ternyata terbalik
Moms, waktu anakku mulai MPASI, aku membayangkan ASI akan pelan-pelan digantikan oleh makanan. Dalam kepalaku, makin banyak makan berarti makin sedikit menyusu. Ternyata pemahaman itu keliru, dan kenyataannya justru berkebalikan.
Aku menulis ini karena mungkin kamu pernah punya dugaan yang sama. Dulu aku cukup kaget waktu menyadari salah paham ini. Semoga penjelasan di bawah membuat kamu lebih tenang melangkah.
Di tulisan ini aku merangkum apa yang kutahu tentang porsi ASI dan MPASI, mulai dari patokan Kemenkes RI sampai penegasan WHO. Semuanya aku susun supaya mudah kamu ingat.
ASI masih menyumbang sekitar 70 persen di usia 6 sampai 8 bulan
Pada usia 6 sampai 8 bulan, ASI masih menyumbang sekitar 70 persen kebutuhan energi anak. MPASI baru mengisi sekitar 30 persen sisanya. Artinya, makanan padat di tahap ini barulah pelengkap, sementara ASI tetap menjadi sumber terbesar.
Karena itu, aku memandang MPASI di awal sebagai masa kenalan, bukan pengganti ASI. Tugasnya memperkenalkan rasa, tekstur, dan cara makan kepada anak. ASI sendiri tetap berjalan seperti biasa, tidak perlu dikurangi demi memberi ruang bagi makanan.
Dengan sudut pandang ini, aku jadi lebih santai melihat piring anak. Makanan sedang belajar masuk ke rutinitasnya, sementara kebutuhan terbesarnya masih terpenuhi lewat ASI. Perkenalan itu memang butuh waktu.
Patokan Kemenkes RI: porsi makanan bergeser bertahap
Kemenkes RI memberi patokan pembagian porsi menurut usia. Untuk usia 6 sampai 8 bulan, ASI sekitar 70 persen dan MPASI sekitar 30 persen. Untuk usia 9 sampai 11 bulan, perbandingannya 50 banding 50. Lalu di usia 12 sampai 23 bulan, ASI sekitar 30 persen dan MPASI sekitar 70 persen.
Kalau diperhatikan, perubahannya tidak terjadi mendadak. Porsi makanan naik sedikit demi sedikit, dan porsi ASI turun searah dengan itu. Jadi kamu tidak perlu buru-buru menyetop menyusui hanya karena anak sudah mulai makan.
Aku menyimpan angka-angka ini sebagai pegangan, bukan sebagai target yang kaku. Tujuannya supaya kamu punya gambaran arah, yaitu porsi makanan akan menanjak pelan seiring usia anak. Gambaran itu cukup untuk menenangkan.
Penegasan WHO: ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih
WHO juga menegaskan bahwa ASI diteruskan sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. Pada saat yang sama, MPASI dimulai ketika anak berusia 6 bulan. Kedua hal itu berjalan berdampingan, bukan saling menggantikan.
Jadi inti MPASI bukan soal melepas ASI. Yang terjadi adalah menambah makanan ke dalam keseharian anak. Begitu cara aku sekarang memandangnya.
Kalau kamu pernah merasa harus segera memilih antara menyusui atau memberi makan, penegasan WHO ini bisa jadi pengingat. Keduanya boleh jalan bersama, dengan ASI tetap diteruskan dan makanan ditambahkan sejak usia 6 bulan.
Anak susah makan di awal MPASI, jumlah suapan bukan penentu
Kalau anakmu susah makan di minggu-minggu awal, tenangkan diri dulu, Moms. Kebutuhan utamanya masih datang dari ASI. Maka jumlah suapan hari ini bukan ukuran keberhasilan.
Hal yang lebih penting adalah anak mau berkenalan dengan makanannya. Mencicipi dan merasakan tekstur sudah merupakan bagian dari perkenalan itu. Piring yang tidak habis tidak otomatis berarti gagal.
Aku tahu godaan menghitung berapa sendok yang masuk itu besar. Tapi di tahap ini, ukuran keberhasilannya memang bukan di sana. Biarkan anak mengenal makanan dengan ritmenya sendiri.
Bulan pertama MPASI tidak punya target yang harus dikejar
Moms, tidak ada yang wajib dikejar di bulan pertama MPASI. Selama ASI masih berjalan dan anak masih mau berkenalan dengan makanan, kamu sudah berada di jalur yang benar. Pegang kalimat itu kalau suatu hari kamu mulai ragu.
Bulan-bulan awal ini adalah waktu anak belajar, dan kamu juga ikut belajar mendampinginya. Beri ruang untuk keduanya.
Tulisan ini bersifat edukasi dan berisi rangkuman pengalaman serta penjelasan umum. Tulisan ini bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau kamu punya kekhawatiran tentang kondisi anak, tanyakan langsung kepada dokter atau tenaga kesehatan.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah ASI perlu dikurangi saat anak mulai MPASI?
Tidak. Di usia 6 sampai 8 bulan, ASI masih menyumbang sekitar 70 persen kebutuhan energi anak, dan WHO menegaskan ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih. MPASI hadir untuk menambah makanan, bukan menggantikan ASI.
Berapa perbandingan ASI dan MPASI menurut usia anak?
Menurut patokan Kemenkes RI, usia 6 sampai 8 bulan sekitar 70 persen ASI dan 30 persen MPASI. Usia 9 sampai 11 bulan 50 banding 50, lalu usia 12 sampai 23 bulan sekitar 30 persen ASI dan 70 persen MPASI. Porsinya bergeser pelan-pelan.
Anak susah makan di awal MPASI, apakah perlu khawatir?
Di awal MPASI, kebutuhan utama anak masih datang dari ASI, jadi jumlah suapan hari ini bukan ukuran keberhasilan. Yang penting anak mau berkenalan dulu dengan makanannya. Kalau kamu tetap cemas, tanyakan langsung kepada dokter.
Sumber
- •Kemenkes RI: patokan pembagian ASI dan MPASI menurut usia, sebagaimana disebut di utas asli.
- •WHO: penegasan bahwa ASI diteruskan sampai 2 tahun atau lebih dan MPASI dimulai di usia 6 bulan, sebagaimana disebut di utas asli.
Versi asli tulisan ini ada di Threads
Mau baca versi singkat dari ceritaku? Buka utas aslinya di Threads MomsyCorner
Cek utas aslinya di ThreadsDi Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.
Panduan terkait
Tabel porsi dan frekuensi MPASI per usia (6-24 bulan)Kalau mau lebih lengkap
Rangkuman Lengkap: Panduan Praktis MPASI
Panduan praktis, resep pangan lokal, mitos vs fakta, sampai tips GTM
Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.