Lewati ke konten utama
MPASI

Anak GTM dan Berat Badan Tak Naik: Langkah dari Kemenkes

2 Oktober 20263 menit baca

Poin penting

  • 1.Menurut Kemenkes, anak yang kekurangan berat badan cenderung tidak bisa makan porsi besar, jadi yang perlu ditambah adalah kepadatan energinya.
  • 2.Kemenkes menyebut tiga arah: tambah lemak sehat, tingkatkan karbohidrat, dan bila perlu tambah kalori dari minuman.
  • 3.Anak dirujuk ke Puskesmas jika berat badan tidak naik dan sudah di bawah garis merah KMS, atau jika sering sakit.
  • 4.Pertumbuhan dinilai dari kurva bulan ke bulan, mencakup berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, bukan satu angka saja.

Ketika timbangan tak bergerak dan aku menyalahkan diri sendiri

Anakku pernah melewati fase GTM, dan aku masih ingat betapa gelisahnya saat itu. Menu kuganti, porsi kutambah, lemak dalam makanannya juga kunaikkan. Kupikir dengan begitu timbangannya akan ikut naik.

Nyatanya angkanya sering tidak bergerak. Setiap kali itu terjadi, rasa gagal datang lagi. Bagian yang paling menguras tenaga justru pikiranku sendiri, yang terus berkata bahwa semua ini salahku. Kalau kamu sedang berada di posisi yang sama, tulisan ini kubuat untukmu.

Kenapa menambah porsi bukan jawabannya, menurut Kemenkes

Kemenkes menyebutkan bahwa anak yang berat badannya kurang cenderung tidak mampu menghabiskan porsi besar. Kalimat itu membuatku sadar bahwa selama ini fokusku keliru. Aku sibuk memperbanyak makanan di piring. Moms, buatku ini mengubah cara memandang piring makan anak.

Padahal yang perlu ditingkatkan adalah kepadatan energinya. Artinya, isi tiap suapan dibuat lebih kaya energi, bukan jumlahnya yang diperbanyak. Cara berpikir ini terasa lebih masuk akal untuk anak yang memang sulit makan banyak.

Tiga arah menaikkan kalori yang dituliskan Kemenkes

Untuk anak yang beratnya kurang, Kemenkes menuliskan tiga arah. Pertama, menambah lemak sehat. Kedua, meningkatkan karbohidrat. Ketiga, bila perlu, menambah kalori lewat minuman.

Contoh lemak sehat yang disebutkan meliputi keju, minyak zaitun, mentega, dan mayones. Ada juga saran sederhana lain: air pada oatmeal atau sereal bisa diganti dengan susu segar. Semua itu bukan menambah jumlah makanan, melainkan membuat isi tiap suapan lebih kaya energi.

Satu hal lagi sering terlewat olehku. Terlalu banyak minum saat makan membuat anak cepat kenyang, sehingga kalori hariannya tidak tercapai. Dari dr. Meta Hanindita, Sp.A(K), aku juga mencatat aturan waktu makan maksimal 30 menit tanpa distraksi.

Kapan harus bertanya ke Puskesmas dan dokter

Soal kapan perlu bertanya, Kemenkes menulis bahwa anak dirujuk ke Puskesmas bila berat badannya tidak naik dan sudah berada di bawah garis merah pada KMS. Rujukan juga berlaku bila anak sering sakit. Jadi ada batas yang jelas kapan usaha di rumah perlu ditemani pemeriksaan.

IDAI menambahkan bahwa penyebabnya bisa berasal dari faktor dalam, seperti genetik atau kelainan bawaan. Bisa juga dari faktor luar, seperti nutrisi, penyakit kronik, atau gangguan emosional. Karena penyebabnya beragam, aku tidak lagi menyimpulkan sendiri apa yang terjadi pada anakku, dan aku ingin kamu tahu ini supaya tidak ikut menyalahkan diri seperti yang dulu kulakukan.

Membaca pertumbuhan lewat kurva, bukan satu angka

Urutan yang kupegang sekarang dimulai dari melihat kurva dari bulan ke bulan, bukan menilai satu angka timbangan. Penilaian memakai growth chart atau IMT, dan perkembangannya bisa dipantau lewat KMS atau buku KIA. Dengan cara ini, naik turunnya angka dibaca sebagai pola, bukan sebagai vonis.

IDAI juga menjelaskan bahwa pertumbuhan dinilai dari berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Artinya berat badan saja tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun. Kalau buku KIA ada di rumahmu, itu bisa jadi tempat mulai.

Pesan untukmu yang sedang khawatir soal berat badan anak

Moms, GTM bukan bukti bahwa kamu gagal. Bisa jadi itu sinyal bahwa anakmu perlu diperiksa. Simpan tulisan ini, lalu kirim ke temanmu yang sedang cemas dengan berat badan anaknya.

Sebelum bertemu dokter spesialis anak, aku membawa catatan khusus. Kalau kamu ingin format catatan yang kubawa itu, tulis GTM di kolom komentar utas aslinya.

Tulisan ini edukasi dan rangkuman pengalamanku, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Untuk kondisi anakmu, tetap konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Pertanyaan yang sering muncul

Kapan anak GTM perlu dibawa ke Puskesmas?

Menurut Kemenkes, anak dirujuk ke Puskesmas jika berat badannya tidak naik dan sudah di bawah garis merah di KMS, atau jika anak sering sakit. Kalau kondisi itu terjadi pada anakmu, sebaiknya bertanya ke tenaga kesehatan.

Apakah menambah porsi makan membantu anak yang berat badannya kurang?

Kemenkes menyebut anak yang kekurangan berat badan cenderung tidak bisa makan porsi besar. Yang perlu ditambah adalah kepadatan energinya, misalnya lewat lemak sehat seperti keju atau mentega.

Apa saja yang dinilai untuk melihat pertumbuhan anak?

IDAI menyebut penilaian pertumbuhan melihat berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala, bukan hanya berat badan. Pemantauannya bisa lewat KMS atau buku KIA, dengan melihat kurva dari bulan ke bulan.

Sumber

  • •IDAI
  • •Kemenkes RI
  • •dr. Meta Hanindita, Sp.A(K)

Versi asli tulisan ini ada di Threads

Versi asli tulisan ini ada di Threads, lengkap dengan kutipan Kemenkes dan IDAI dalam format utas yang ringkas. Baca di sana, simpan, lalu kirim ke temanmu yang sedang khawatir soal berat badan anaknya.

Cek utas aslinya di Threads

Di Threads kamu bisa ikut diskusi di kolom komentar. Artikel di halaman ini adalah versi tulis ulang yang lebih panjang, bukan salinan utas.

Kalau mau lebih lengkap

Rangkuman Lengkap: Panduan Praktis MPASI

Panduan praktis, resep pangan lokal, mitos vs fakta, sampai tips GTM

Artikel ini untuk belajar dan menemani, bukan pengganti pemeriksaan dokter. Kalau ada yang membuatmu khawatir, bawa catatannya ke dokter anak, bidan, atau posyandu.

Artikel lain di topik yang sama